Melestarikan Budaya Kuno yang dimaksud adalah
mencakup seluruh aspek kehidupan leluhur di masa masa yang silam,
sesuai dengan kondisi alam dan kemampuan berpikir suatu kaum/bangsa.
Adapun faktor yang juga dominan dalam membentuk budaya adalah hasil dari
sosialisasi masyarakat, interaksi manusia dengan alam, keyakinan, kesenian, juga
pengaruh luar yang masuk melalui perdagangan, misi/dakwah dan
kolonialisasi.
Budaya yang sangat di minati untuk dilestarikan adalah peninggalan sejarah berupa Bangunan dan Seni. Sedangakan gaya hidup, tekhnologi, politik, bahasa dlsb. senantiasa
berubah mengikuti waktu, berkembang menjadi Budaya yang baru. Untuk Jenis
Bangunan, lebih mudah untuk di lestarikan, hanya persoalan dana. Tapi
untuk bidang Seni akan sulit karena menyangkut minat dari Generasi Muda bangsa yang lebih cenderung menggemari budaya baru dan asing.
Ulasan
sederhana dan singkat diatas, bukanlah inti dari tulisan ini! Kalimat
pertanyaannya adalah: dalam rangka apa melestarikan budaya kuno? Benarkah
sebuah penghargaan terhadap sejarah leluhur? atau memberitakan pada
dunia tentang betapa ber-adabnya kehidupan kita di masa lalu?. Apakah
demi devisa yang dihasilkah dari Parawisata? Entah apalagi!
Apapun bentuknya Budaya masa lalu tetap saja adalah “Kuno”, walaupun ada beberapa unsur yang dapat diteliti dan dirujuk sebagai
pengetahuani masa kini. Yang lebih memprihatinkan jika cuma sekedar menjadi objek tontonan. Nah! kalau sudah sampai
pada kata tontonan, apakah masih bisa dijadikan kebanggaan? Masih sepadan dengan penghasilan secara ekonomi?.
Mengapa harus di tonton? Karena unik, antik yang membuat Penonton berdecak kagum, memuji dan mau membayar mahal. Tapi, selebihnya adalah “Primitif”, kata yang tepat
untuk menggambarkan keterbelakangan dan kebodohan. Pilihannya adalah mau jadi Penonton atau di-tonton?.
Oh..dua-duanya dong! Iya kalau bisa! Tapi buktinya setiap suku/bangsa
yang sangat mengandalkan/menjual budaya kunonya, akan menjadi suku/bangsa yang tertinggal jauh di semua bidang kehidupan! Tidak usyah saya
sebutkan....silahkan disurvey!
Sebagai
contoh perbandingan budaya yang saya maksud: seperti kerajinan tenun
yang khas melambangkan satu suku/daerah tertentu. Dalam memproduksinya
sangat sulit, butuh waktu yang lama dan bahan baku yang terkadang susah
didapat. Untuk satu lembar kain saja bisa memakan waktu sampai berbulan.
Oh...itu akan terbayar, seimbang dengan harganya! Yang ingin saya kaji
adalah Pelaku/Penenun yang mengerjakannya? Bukankah sering kita melihat
tayangan-tayangan di TV tentang orang-orang Pinggiran seperti itu?
Ya..yang mungkin mendapat keuntungan yang besar adalah
kolektor/majikannya, termasuk yang menggalakkannya. Bagi saya disinilah
lucunya, disatu pihak kita bangga dan menggalakkan, sampai menyelegarakan
seminar dan menyediakan fasilitas belajar menekuni budaya kuno itu.
Sementara Tekhnologi masa kini, satu Pekerja mampu menenun ribuan
kain dalam satu hari saja dengan bantuan mesin.
Melestarikan
Budaya Bangsa tentu saja
masih diperlukan dengan satu tujuan yang memang mulia, bukan untuk
menjadi objek tontonan, masih banyak yang harus digalakkan dan tidak
akan mempengaruhi generasi seolah berjalan mundur, selagi mereka
dituntut oleh kehidupan yang serba cepat dalam segala bidang. Janganlah
slogan pelestarian budaya ini berubah menjadi hal yang sakral dan dibangga-banggakan, jika akhirnya hanya membuat satu kaum menjadi terpuruk, baik secara ekonomi bahkan membahayakan iman.
Semua
yang saya tulis cuma sekedar unek-unek terhadap program-program negara
ini. Bahkan dijadikan suguhan-suguhan resmi kenegaraan. Saya terenyuh
melihat betapa bersahajanya kehidupan suku-suku yang dikondisikan terus
menjadi Pelestari Kebudayaan, bukannya dituntun dan diperkenalkan pada
tekhnologi moderen.
by: Rheezal
by: Rheezal
No comments:
Post a Comment