My Hobby

Perjalanan hidup yang saya titi di jalanan berkerikil, berbukit dan terjal. Kalau saya renungi...banyak sekali fatal error, aktifitas masa lalu yang sama sekali tanpa program atau diprogram. Semua berjalan sekedar mengikuti keinginan hati. Ini karena memang sudah tabiat yang keras hati, cuek dengan masa depan. Terlebih karena saya besar dilingkungan yang salah, lingkungan yang keras, judi dan premanisme, karena sejak kecil saya selalu ikut bapak mengurus usaha Billiard, waktu itu cuma Billiard bola tiga.




Karena Billiard adalah usaha sendiri, tentu sayapun cukup mahir memainkannya, bermain judi dengan orang-orang yang lebih dewasa. Bahkan saya ingat betul ketika mau ujian SD, saya dijemput oleh Paman (yang juga wakil Kepala Sekolah) saat saya sedang judi Billiard. Alahmdulillah Lulus juga SD dengan nilai gak kurang gak lebih.

Setelah Usaha Billiard tutup karena sudah sepi, Bapak saya mengubah usaha dibidang otomotif, berupa Bengkel Sepeda Motor, tentu sayapun ikuti sampai mahir, bahkan sempat buka Bengkel Motor Sendiri.




Disamping menggeluti dunia otomotif, malam harinya saya menggeluti dunia Elektronik juga. Awalnya adalah dari hobby main Pemancar Radio. Waktu itu masih zaman Pemancar Tabung. Dari membaca buku dan bertanya sama teman, saya bisa merakit sendiri bahkan menjual hasil rakitan saya untuk teman2 dan Uncomercial Radio di daerah2.




Perjalan sekolah formal saya (SMP) tidak mulus, saya memang type tidak suka sama yang sifatnya formil (sampai kini), terlampau kaku dan banyak sekali aturan. Pernah pula mengecam pendidikan agama di Pesantren Nurul Islam Sri Bandung OKI Sumsel. Tidak lama, tapi cukup pengetahuan untuk baca tulis huruf Arab dan tajwid ngaji. Kabur dan merantau untuk kursus otomotif mesin empat tak (mobil) di Yacoub College belakang Wisma Metropolitan DKI.

 Setelah kemabali ke Palembang dan mengikuti ujian persamaan SLTP, saya melanjutkan sekolah menengah di SMA Veteran Plaju Palembang...juga tidak kelar. Masa itupun sibuk dengan organisasi massa PII (Pelajar Islam Indonesia), Karena bisa main Gitar, saya mengurus bagian Kesenian di Kepengurusan Daerah dan juga ikut mengurus Bulletin di Pengurus Wilayah, karena saya juga suka sekali membuat tulisan berupa cerpen, puisi dan mendesign gambar. Beruntung, di PII saya banyak sekali bergaul dengan orang2 yang tekun, rajin, pandai, idealist dan religis. Saya juga memperolah keterampilan sablon menyablon, juga sempat buka usaha dibidang ini.


Waktu itu, Orde Baru sedang gencarnya untuk menyatukan azaz Parpol dan Ormas kembali ke Pancasila dan UUD45. Masa yang cukup menegangkan, dimana kegiatan ormas selalu diawasi. Sayapun setuju dengan sikap Ormas PII yang rela bubar daripada menggantikan azaz Islam dengan yang lain.

Karena tidak tamat SMA, saya hijrah ke Bandar Lampung, tepatnya kota Tanjung Karang. Di kota ini saya pernah bekerja sebagai  Penyiar di Radio Generasi Patrol di Teluk, Montir Sepeda Motor, di Toko Manisan dan Studio Foto Juara. Karena saya dinilai Bos bisa Elektronik, saya dikirim ke Ricoh House Jakarta untuk belajar memperbaiki mesin Photo Copy. Selain bekerja di Juara Photo Studio, saya juga di tarik bekerja di Agen Photo Copy Ricoh "NIRWANA" Tanjung Karang. Di Kota Tanjung Karang ini saya juga sempat menamatkan Pelatihan Welding (Las) di BLKI Bandar Lampung.


Perkenalan saya dengan Mesin Photo Copy dan bekerja pada Perusahaan, adalah awal bagi saya untuk mulai merasa dewasa dan mengerti Tanggung Jawab. Walau disiplinnya sangat sulit juga buat saya, terutama bangun pagi.

Kemudian saya kembali ke Palembang, juga bekerja di Distributor Mesin Copier merk Ricoh. Di CV Tunas Baru di Jalan Kol. Atmo, saya berkenalan dengan lebih banyak lagi jenis Produk lainnya dan di Training di Pusat, seperti mesin Offset, Lightdruck dan Faxcimille.

Saya sudah diberi kesempatan oleh Pimpinan Tunas Baru untuk me-manej satu daerah (kab.OKU), tapi kesempatan itu tidak saya laksanakan dengan baik, sebab penyakit gila nge-break di cepe'an kambuh, plus merambah ke dua meteran, juga menguasai service HT special ICOM, gak ade duitnye.....temen semua ! Juga dikota Batu Raja ini saya sempat mengajar Less Private Bhs Inggris untuk SMP, muridnya anak Pak Wali dan Kasi I Intel Batu Raja. Kalau ingat itu, lucu juga, saya yang lumayan ngawur kok disuruh ngajar, cuma karena mereka sering denger saya ngebreak pake bahasa Inggris. Dulunya sih...karena males sekolah formal, saya banyak mengambil Kursus Bhs. Inggris, dengan tujuan mau kerja di Luar Negri atau menjadi seorang Touris Guide, maunye sih ke Bali. He he gak kesampaian!


Lepas dari Tunas Baru, saya ngacir ke Riau, di Kota Pekan Baru saya bekerja di CV Nirwana Agung, juga sebagai Tekhnisi Copier  dan Offset Ricoh, daerah service sampai ke Dumai dan Kota Padang. Juga gak betah...cuma bertahan satu tahun, pulang kampung dan balik kerja di Tunas Baru.

Akhirnya karena bosan, sayapun undur diri dari bekerja di perusahaan orang. Saya mulai bisnis, dari membuka Copy Center, Bengkel Elektronik di Tanggerang dan Prabumulih Sumsel. Yang parah...saya mencoba menggeluti dunia yang saya tidak kuasi, bidang Pertanian. Saya membuka kebun cabai seluas dua hekter di desa Paya Kabung Sumsel. Karena tidak punya pengetahuan tentang tani, sekedar melihat keberhasilan cepat teman, itu merupakan bencana bagi perekonomian saya.





Bosan dengan Predikat Montir Elektronik, saya mulai merambah dunia Komputer, yang kala itu cukup keren dan sedikit tenaga ahlinya, baik di bidang software apalagi hadrwarenya. Usaha bisa jalan tanpa kantor/bengkel, cuma bermodalkan Telpon, Kendaraan dan Iklan di Media Cetak. Dunia ini cukup asyik, tidak melulu berhadapan dengan solder dan timah saja, tapi ada unsur hiburan dan wawasan yang luas, global. 


Setelah usaha service komputer sudah menjamur dan tidak banyak lagi berhubungan dengan solder, semua serba digital dan sistem service yang cuma cocok tanam saja, anak kecil juga bisa! Saya mulai melirik bisnis lain. dan bisnis itu jatuh ke Music. Cerita tentang ini bisa dibaca di My Music.

Demikianlah perjalanan hidup saya, hingga kini ditopang oleh sisa sisa keakhlian yang berangkat dari Hobby. Namun saya mensyukuri semuai itu, Ikhlas. Walaupun secara materi  saya kurang berhasil, saya merasa bahwa saya menjalani dinamika hidup yang benar, dimana saya dituntut untuk tahu dan mempelajarinya, demi kepuasan bathin dan demi hidup itu sendiri. 

Setelah banyak mengalami kesukaran demi kesukaran hidup, saya selalu mengajari diri saya sendiri untuk mengosongkan beban bathin, meluaskan rongga dada dari segala tuntutan dan rongrongan duniawi. Betapa lega dan sejuk terasa, bilamana kita mampu memaklumi Hidup dan Tuhan.

Salam

by: Rheezalliberty 







1 comment:

Anonymous said...

Nice experiance