Sudah beberapa tahun belakangan ini saya
sudah tidak mau ndengerin ceramah agama (Islam), baik oleh Ustadz
apalagi Ustadzah, yang biasanya di tayangkan di TV setiap subuh atau di
bulan bulan Ramdhan. Kenapa ya? Kalau kebetulan saya sedang pegang
remote dan bersinggungan dengan acara tersebut, otomatis saya over kilat
ke chanel lain yg lebih saya sukai, saya anggap lebih menarik dan
bermanfaat, seperti acara acara tentang alam, hewan , tumbuh tumbuhan
atau tentang petualangan, kehidupan dan kemiskinan yang makin menjadi di
bumi Nusantara ini.
Bila anak dan istri saya yang nonton
ceramah agama pasti juga saya omeli, dan saya anjurkan untuk lebih suka
dengar tembangan ayat ayat suci Alqur’an saja atau adzan adzan yang
sangat merdu. Saya katakan “tidak perlu dan bahaya” bila sampai termakan
dengan bualan (istilah saya) ceramah yang di sampaikan oleh para Kyai
Kyai layar kaca. Kalau mau belajar agama, maka bukalah Alqur’an,
lantunkan ayat ayatnya. Kalau belum bisa baca tulisan arabnya, ada
tulisan latinnya. Dan, bacalah artinya dalam bahasa Indonesia, tafsirkan
saja sendiri, tidak perlu buka buku tafsir. Kalaupun salah / menyimpang
dari maksud dan tujuan Tuhan, maka salah kita sendiri, tapi bukan
karena salah orang lain. Ya…tapi kalau ente ente ndak setuju, yo wes!
Mengapa saya berpandangan picik begitu?
Menurut saya picik yang cantik! Saya perhatikan hampir semua Penceramah
Agama itu menyampaikan ajaran ajaran yang itu itu saja, serupa,
membosankan, menakutkan, mendikte dan mengancam sampai pada sendi sendi
kemanusiaan yang paling manusiawi sekalipun. Seolah tidak ada lagi
ruang dan pengakuan bahwa manusia itu bukanlah Robot atau ciptaan Tuhan
yang paling sempurna. Tidak ada dan tidak boleh, semuanya sudah menjadi
kehendak Tuhan dan sudah punya perjanjian dengan Tuhan sebelum manusia
itu dilahirkan. Ye…kapan kapan juge aye janjian ame Tuhan?
Sekali waktu kalau kita ketiban rejeki,
lulus sekolah, naek pangkat atau apa sajalah yang sifatnya
menguntungkan, maka itulah Anugrah dari Tuhan. Maka, sujud syukurlah
atas nikmat itu. Sebab tanpa bantuan Tuhan tidak akan terjadi. Padahal
yang bener itu “Tanpa Tuhan Manusia dan Alam semesta ini tidak ada”,
jadi otomatis tidak ada keberuntungan!
Coba tengoklah betapa banyaknya ketidak
beruntungan di Dunia ini, ke-tidak adilan, bencana, perang dlsb.
Tuhankah yang berbuat sekejam itu? Paling die ngeles; itu adalah ujian
dari Tuhan! Emang Tuhan Kepala sekolah?
Salah satu faktor utama yang menyebabkan
Ummat Islam jauh tertinggal dalam bidang Tekhnologi oleh Ummat beragama
lain ialah gara gara yang terlampau banyak keluar dari mulut Pemuka
Agama yang menganggap bahwa Manusia itu adalah “Robot Tuhan”. Bahkan
yang lebih parah sebagian lagi mengkonversikan ayat ayat menjadi
mistis, sehingga bila ditulis disecarik kertas dan dibungkus dengan
kain hitam lalu diikat dipinggang atau digantung di leher bisa bikin
badan kebal senjata. Haha…cobainlah!
Tidak semua sih! Masih ada juga
Penceramah yang tidak populer suka menyampaikan ajaran ajaran Tuhan yang
real dan sesuai dengan ilmu pengetahuan dan fitrah manusia, tidak
berbau mistik atau merefleksikannya dengan cara yang mengolok olok atau
menjadikannya komoditi humor dengan alasan “biar gak ngantuk”. Ini sudah
keterlaluan dan sudah terjadi penyisipan.
Jadi, saya tidak suka karena saya merasa
bukan mendapatkan pencerahan dan bimbingan agar selamat dunia dan
akhirat, malah saya merasa bakal disesatkan dalam memahami tentang
ke-Tuhanan, yang mungkin akan menggiring pemahaman saya kepada; bahwa
Tuhan adalah se-sosok yang tidak sesuai dengan apa yang tersirat dalm
surat al-ikhlas, bahwa tidak ada sesuatu apapun menyamai, yang setara
dengan-Nya. Jadi saya kuatirkan juga anak istri saya akan berimajinasi
bahwa Tuhan ada di Langit dan senantiasa duduk di sebuah singgasana
kerajaan Langit sambil nengok nengok terus ke Bumi, sibuk memperhatikan
manusia satu persatu, sehingga bisa dijuluki “Tuhan yang Maha Repat”,
Tuhan yang kalah sama Gus Dur.
Saya ingin memberikan apresiasi yang
tinggi atas ciptaan Tuhan berupa Manusia, sebagai individu yang memang
bebas berkehendak dalam segala hal menyangkut hidup dan kehidupan
dirinya sendiri, bersosialisasi dengan manusia manusia lainnya dan alam
sekitarnya, serta sadar dan bertanggung jawab penuh kepada Penciptanya,
Tuhan yang telah menanamkan Investasinya berupa Alam semesta raya
beserta seluruh isinya. Tuhan menciptakan System Kehidupan berikut Hukum
alam, hukum sebab akibat, dan aturan aturan yang di wahyukan melalui
banyak Nabi dan Rasulnya.
Memang sangat sulit bagi saya untuk
menyimpulkan hakikat Tuhan dengan kalimat. Setidaknya saya punya
pemahaman bahwa Tuhan bukanlah se-sosok atau se-suatu yang sama dengan
hasil ciptaannya, apalagi mengambil rupanya, namun Kata “TUHAN” menjadi
pengertian yang senantiasa memenuhi alam pikiran saya, sehingga saya
bisa dan mau memaklumi semua dinamika hidup dan kehidupan dunia fana
ini.
Kepada Pembaca yang tersinggung, saya mohon ma’af. Kepada Tuhan saya mohon ampunan!
by: Rheezal

7 comments:
Sudah saya follow sobat. Ditunggu Follow baliknya ya di blog saya
Thank's
wow nice posting gan, saya sependapat tntang agan, ceramah pendeta kristen lebih bagus dan lebih menyampaikan poin penting dari pada ustad / ustazah kita yang selalu menampilkan tangisan di setiap dakwah nya,
terima kasih gan dah mampir! Ya...begitulah adanya, mungkin kebosananlah yg menyebabkannya!
TV di kamar malah sudah lama di non aktifkan kak, males nonton TV juaraaaang sekali ada acara yang berbobot,....
Karena saya tidak sua lagi denger ceramah, maunya nyeramahin orang mulu...parah!!!!
wkwkwkwk.... keren..
Post a Comment