HAMPIR DIMAKAN JIN

Rahmat baru saja selesai merenovasi rumah tua peninggalan kakeknya. Sebelumnya memang rumah kayu itu kelihatan angker, apalagi di malam hari. Dinding2 nya banyak yang sudah kropos dan bentuk atapnya sudah condong. Berkat kerja kerasnya dan menabung selama bertahun tahun, Alhamdulillah, sekarang sudah enak dipandang dan ditempati, meski dengan dana sedikit. Rahmat bisa mengganti papan papan dinding yang sudah keropos dan memperbaiki bagian atap seng yang sudah banyak bocor.


Tapi jika kita bertamu ke rumah Rahmat kini, tidak ada kesan angker lagi, karena sudah di cat dengan warna putih, lampu-lampu penerang sudah ditambah di setiap sudut. Yang paling berkesan adalah kamar mandi-nya, masih bergabung dengan toilet, sudah dibeton dan dipasang kramik warna putih bersih. Tempat untuk BAB sudah diganti dengan Kloset moderen, dan ada pengharum ruangan.


Satu malam, setelah sholat Isya’ Rahmat santai membaca majalah di beranda. Istri dan dua anak Rahmat yang masih kecil di ruang tamu sedang nonton TV. Lagi asyik-asyik baca majalah, tiba-tiba perasaab Rahmat tidak enak, Rahmat merasa disentuh oleh sesuatu, seperti ada hembusan angin menerpa wajahnya, padahal cuaca malam itu cerah dan pohon-pohon disekitar tidak melambai-lambai. Bulu kuduk Rahmat jadi merinding.

Sebenarnya peristiwa semacam ini sudah berapa kali di alami oleh Rahmat semenjak selesai merenovasi rumahnya. Ada rasa heran. Padahal sebelum direnovasi dan kalau malam lebih gelap dan suram dibanding saat ini, malah tidak pernah mengalami peristiwa yang menyeramkan. Karena Rahmat termasuk Muslim yang sholeh, Rahmat selalu melakukan zikir dan membaca ayat-ayat Quran bila suasana hatinya tidak enak.

Tiba-tiba majalah yang sedang dipegang Rahmat jatuh, seperti ada orang yang merenggutnya dan membuangnya kelantai, lebih kurang satu meter sebelah kanan Rahmat. Bulu kudu Rahmat makin mengkirik. Baru saja Rahmat beranjak mau masuk kedalam rumah, terdengar di telinga Rahmat suara seperti berbisik:

“maaf tuan, boleh kita bicara sebentar”. Astaghfirullahuladzim, Rahmat benar-benar kaget, hampir saja dia berteriak dan hendak kabur secepatnya, tapi mendadak juga timbul keberanian Rahmat:

“Siapa kamu, siapa yang bicara ini?” Tanya Rahmat sambil celangak celinguk mencari asal suara itu.

“Saya tuan, saya adalah bangsa Jin dan saya sudah sejak lama tinggal disini sejak zaman kakek tuan”, jawab suara itu, ” tuan memang tidak bisa melihat saya, tapi saya bisa melihat tuan” lanjut suara itu.

Dalam rasa takut dan bulu kuduk yang terus merinding hebat, Rahmat mulai dapat mengendalikan perasaannya dan memahami ucapan yang berupa bisikan itu. Lalu Rahmat memutuskan untuk duduk kembali dan melakoni komunikasi yang tidak wajar ini.

“Baiklah, saya mulai mengetahui siapa kamu. Dahulu Kakek saya juga pernah cerita tentang keberadaan kamu. Tapi selama ini kamu tidak pernah melakukan komunikasi seperti ini, dalam mimpipun tidak, jadi katakan maksudmu sekarang” ucap Rahmat seperti orang menggumam perlahan, takut nanti Istri dan anak-anaknya mendengar.

“Selama ini memang saya baik-baik saja tuan, kebutuhan saya sudah cukup. Tapi sekarang tempat diamana saya biasa makan dan tidur sudah tidak ada tuan, dan saya lapar tuan”
“Maksud kamu?” tanya Rahmat

“Selama ini tempat tinggal saya adalah WC tuan, disana saya senang dengan suasananya yang suram, kotor, banyak pakaian dalam yang bergelayutan, banyak cucian yang terendam, kadang masih ada kotoran-kotoran manusia yang mengambang, banyak pemandangan dan aroma yang menjadi makanan saya tuan”

Selain kaget, Rahmat juga merasa sangat malu. Nampaknya Jin ini sedang menggunjingkan kehidupannya keluarganya selama ini, sebelum dia merenovasi dan berikrar merubah kehidupan keluarganya yang jorok.
Dialaog antara Rahmat dan Jin pun dilanjutkan;

Rahmat; Jadi apa mau kamu sekarang?

Jin       : Saya lapar Tuan, dan sekarang saya sedang makan!

Rahmat: Hah…makan apa kamu? dimana ?

Jin      : Saya persis dihadapan tuan, dan saya sedang menikmati aroma jengkol yang keluar darimulut tuan.

Rahmat: Wah…kamu menghina saya ya?

Jin      : Tidak tuan, saya serius. Bau-bau seperti Jengkol, Pete, Tokai memang menu istimewa kami bangsa Jin tuan.

Kini, sama sekali tak ada lagi rasa takut yang menyergap Rahmat, berganti dengan rasa malu dan takjub dengan peristiwa yang sedang dialaminya. Dalam hati Rahmat bertekad untuk berhenti makan jengkol dan Pete cs.

Rahmat: Selanjutnya bagaimana?

Jin      : Mungkin ini hidangan terakhir yang saya makan disini tuan, jadi saya sekalian mau pamit untuk pindah ke rumah sebelah tuan.

Rahmat: Oh….ya! Kalau begitu baiklah, saya setuju dengan keputusan kamu, saya mohon maaf karena telah membuat kamu sengsara belakangan ini.

Jin      : Sama sama tuan, Assalamualaikum!

Rahmat: Wa’alaikumussalam!

Suasana yang agak mencekam sesaat tadi berubah menjadi sejuk, angin malam pun berhembus sepoi sepoi, menggoyang daun daun Jambu di halaman rumah Rahmat. Sambil menebar senyum terkesima, Rahmat beranjak dan masuk ke dalam rumah dan mengoncinya……Klik.

By Rheezal.

4 comments:

Anonymous said...

wuwkakakaka....ya bener, kebersihan sebagian dari Iman!

jablay said...

se7 gan. makasih dah mandek

Erwin Saputra said...

wkwkwk nice gan, ane bnr2 dibikin ketawa gan padahal udh mlm ni...yang paling lucu ntuh pada kalimat "wah kamu menghina saya ya" :D Cerita lain dunk gan, ane tunggu lho!

jablay said...

yg bener gan?! masih sibuk moles blog, susah kaali, so...ide menulis apalagi melucu...susah!